Rani Fitria. S (Nim:2410.079)
PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA di STAIN SYEKH M.JAMIL JAMBEK

Jumat, 18 Januari 2013


1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin pesat,maka akan dituntut sumber daya manusia yang berkompeten dan memiliki keterampilan khusus dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan . Untuk itu sangant dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas .Dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas diperlukan sekali perbaikan proses pembelajaran pada setiap bidang studi.
Matematika adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi tidak terlepas dari ilmu matematika, oleh karena itu hendaknya pembelajaran matematika dapat menjadi suatu pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika.
Pendidikan menjadikan manusia memiliki derajat yang tinggi. Sebagaimana janji Allah SWT yang akan meninggikan beberapa derajat kedudukan orang yang berilmu. Sesuai dengan firman-Nya dalam surah Al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi:
2
...
Artinya : “… dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan1. Jadi sebagai mukmin kita diwajibkan menuntut ilmu termasuk Matematika. Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan di Perguruan Tinggi. Pengajaran matematika di SD hingga SMA adalah untuk mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Kurikulum memberikan tuntutan pembeljaran yang berorientasi kepada proses bukan terhadap hasil saja. Berarti siswa dituntut untuk aktif mengembangkan kemampuan yang dimilikinya seperti mengamati ,menginterprestasikan,mengaplikasikan konsep dan mengkomunikasikan hasil yang diperoleh agar perubahan yang terjadi secara sadar (disengaja) untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Kedudukan guru dalam pengertian ini bukan hanya sebagai pengusaha tunggal dalam kelas atau
1 Departemen Agama Republik Indonesia, AL-QUR’AN dan Terjemahannya, (Bandung: Jumanatul Ali-Art( J-ART), 2005), juz 28, h.544
3
sekolah,tetapi dianggap sebagai manager of learning (pengelola belajar) yang perlu senantiasa siap membimbing dan membantu para siswa dalam proses pembelajaran.
Tetapi kenyataannya aktivitas siswa dalam pelajaran matematika pada kurikulum KTSP masih jauh dari yang diharapkan.Berdasaekan wawancara peneliti dengan guru bidang studi matematika kelas XI di SMAN 1 SUNGAI PUA tentang aktivitas belajar siswa ,bahwa selama proses pembelajaran berlangsung terlihat kurangnya kesiapan siswa dalam menerima pelajaran, sulitnya siswa untuk memusatkan perhatian ketika guru sedang menerangkan pelajaran, siswa kurang menyenangi cara penyampaian materi pelajaran , sulitnya siswa untuk memusatkan perhatian ketika guru sedang menerangkan pelajaran, siswa kurang menyenangi cara penyampaian materi pelajaran matematika,kurangnya memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendri, sehingga ketika guru memberikan latihan sebagian besar mereka tidak bisa menyelesaikan soal dengan benar.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa adalah dengan mengunakan metode pembelajaran diskusi kelompok ,diantaranya metode Genius Learning. Dalam menerapkan metode Genius learning ini anak didik ditempatkan sebagai pusat dari proses pembelajaran,anak didik tidak menjadi obyek pendidikan melainkan sebagai subyek pendidikan.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Perbandingan Hasil Belajar Matematika
4
Menggunakan Genius Learning Strategy Dengan Pembelajaran Konvensional Di Kelas XI di SMAN 1 SUNGAI PUA”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasaekan latar belakang di atas , peneliti mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Kurangnya kesiapan siswa dalam menerima pelajaran
2. Siswa kurang menyenangi cara penyampaian materi pelajaran matematika
3. Sulitnya siswa untuk memusatkan perhatian ketika guru sedang
menerangkan pelajaran
4. Kurangnya memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri
5. Pembelajaran yang lebih didomisili oleh guru .
C. Pembatasan Masalah
Karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki dan agar terpusatnya pembahasan dalam penelitian ini maka dari latar belakang masalah tersebut , penulis membatasi masalaha yang akan diteliti yaitu :
1. Penelitian ini pada semester II tahun pelajaran 2012/2013 terhadap siswa kelas XI di SMAN 1 SUNGAI PUA.
2. Hasil belajar berupa bilangan yang diperoleh melalui ters akhir dan LKS.
5
3. Materi yang diberikan selama penelitian adalah okok bahasan Turunan Fungsi.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas , maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah hasil belajar siswa dengan mengguankan strategi Genius Learning lebih baik dari pada hasil belajar siswa dengan metode konvensional pada siswa kelas XI SMAN 1 SUNGAI PUA?”.
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas,tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya perbedaan hasil belajar matematika siswa menggunakan strategi Genius Learning dengan pembelajaran biasa di kelas XI SMAN 1 SUNGAI PUA
F. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami proposal penelitian ini maka peneliti akan menjelaskan beberapa istilah dibawah ini:
1. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika menurut Nikson Marpaung dan Mulyadi adalah upaya membantu siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep atau
6
prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses interaksi sebagai konsep dan prinsip itu dibentuk kembali.
2. Model Pembelajaran Genius Learning
Strategi Genius Learning adalah suatu rangkaian pendekatan praktis dalam upaya peningkatan hasil proses pembelajaran dengan menggunakan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, seperti pengetahuan tentang cara kerja memori, kerja otak, kepribadian, emosi, gaya belajar, multiple intelegensi dan pengetahuan lain sebagainya yang bisa membantu efektifitas proses belajar mengajar.
3. Model Pembelajaran konvensional
Model pembelajaran konvensional adalah pembelajaran dengan menggunakan metode yang biasa digunakan oleh guru yaitu memberi materi melalui ceramah, latihan soal kemudian pemberian tugas.
4. Hasil belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar, menguasai materi yang diajarkan. Hasil dari belajar metematika itu dapat di tentukan dari evaluasi dari suatu pelajaran baik dengan diadakanya ujian harian, ujian tengah smester maupun ujian akhir semester, berhasil atau tidaknya guru mengajar di lihat dari hasil belajar yang diperoleh
7
oleh siswanya dan berhsil atau tidaknya siswa dalam belajar dilihat dari hasil belajar selama pembelajaran berlangsung.2 G. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Bagi Guru
a. Dapat memberikan alternatif pemecahan masalah dalam menemukan model pembelajaran matematika.
b. Memberikan informasi bagi guru matematika khususnya guru MTsN mengenai Strategi Genius Learning
2. Bagi Peneliti
a. Pedoman bagi peneliti sebagai calon guru agar nantinya dapat menerapkan strategi Genius Learning dalam pembelajaran matematika nantinya b. Melatih peneliti agar terampil dalam membuat karya ilmiah. c. Melatih peneliti berfikir kritis, kreatif dan inofatif dalam menye lesaikan masalah yang dihadapi khususnya yang berhubungan matematika.
2 2 Nana Sudjana.1989.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.PT.Remaja Rosdakarya :Bandung hal:3
8
d. Peneliti dapat merancang suatu metode pembelajaran yang dapat
membawa pengaruh positif terhadap pembelajaran matematika.
3. Bagi Lembaga
a. Diharapkan dapat memberi kontribusi dalam meningkatkan kualitas sekolah.
b. Meningkatkan perhatian dan dukungan dari kepala sekolah kepada guru dan siswa kelas XI di SMAN 1 SUNGAI PUA
9
BAB II KERANGKA TEORITIS
A. KAJIAN TEORI
1. Belajar dan Pembelajaran Matematika Belajar adalah proses perubahan sebagai akibat terjadinya interaksi si pelajar dengan lingkungan.
Pada Teori Medan (Field Theory) dijelaskan bahwa belajar adalah perubahan struktur kognitif (pengetahuan).Orang belajar akan bertambah pengetahuannya, yang berarti tahu lebih banyak daripada sebelum belajar.Tahu lebih banyak berarti ruang lingkupnya bertambah luas dan semakin terdiferensikan . Itu semua berrti seseorang akan banyak memiliki fakta yang saling berhubungan. 3
Belajar menurut A. Tarbani dkk adalah suatu proses tingkah laku individu berinteraksi dengan lingkungannya. Jadi belajar memerlukan usaha dari individu untuk aktif dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya sehingga dapat mengakibatkan perubahan tingkah lakunya4.
Berdasarkan kutipan diatas dapat dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku yang dicapai seseorang dari hasil interaksi
3 Ilmi,Darul. Dasar-2009.Dasar Pendidikan dan Pembelajaran.STAIN Bukittinggi:Bukittinggi , hal 21 4 Tarbani dkk, Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta : Grasindo, 1992), hal 2
10
dengan lingkungan dalam bentuk pengalaman. Jadi, bagi siswa belajar sebaik-baiknya adalah siswa mengalami, sebab dengan mengalami itu individu dapat mengkonstruksikan pengetahuannya.
Nikson Marpaung dan Mulyadi menyatakan bahwa pembelajaran matematika adalah upaya membantu siswa untuk mengkonstruksi konsep- konsep atau prinsip- prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses interaksi sebagai konsep dan prinsip itu dibentuk kembali. Jadi guru dituntut untuk memberi dorongan kepada siswa dengan menfasilitasi siswa agar aktif mengkonstruksi kompetensi matematika mereka. Guru juga dituntut untuk membantu peserta didik untuk menjadi sadar terhadap bakat personal yang ada dalam dirinya dan untuk mengembangkan serta merealisasikanya agar mencakup berbagai masalah5.
Salah satu ciri dari pembelajaran matematika masa kini adalah penyajiannya didasarkan pada teori psikologi pembelajaran yang pada saat ini sedang popular dibicarakan oleh pakar pendidikan . Karena proses pembelajaran adalah pembentukan diri siswa untuk menuju pada pembangunan manusia seutuhnya, jadi tidak melalui “trial and error”.Siswa adalah manusia yang sedang mengembangkan diri secara utuh dan tidak boleh dianggap sebagai kelinci percobaan.6
5 Nikson Marpaung dan Mulyadi, Belajar Matematika Aktif, ( Bandung : Sinar Baru Agresindo, 2002), h 101 6 Tim MKPBM.. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.(Padang : UPI. 2001), h.29
11
Dalam kaitanya dengan matematika Bruner berpendapat matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat dalam materi yang akan dipelajari serta mencari hubunganya dalam matematika itu, dan ia mengemukakan bahwa belajar matematika dapat berlangsung 4 tahap, yaitu:
1. Teorema konstruksi (contruction teorema)
Bahan belajar matematika yang terbaik bagi siswa yaitu dengan memulai belajar konsep dan prinsip matematika dan mengkonstruksinya gagasan- gagasan yang dipelajari.
2. Teorema Notasi
Bahwa notasi konstruksi awal belajar dibuat lebih sederhana secara koknitif dan dapat dimengerti lebih baik oleh siswa, hal ini dilakukan dengan pendekatan spiral.
3. Teorema perbedaan dan vanasi
Bahwa belajar matematika berlangsung dari kongkrit menuju abstrak harus disertai perbedaan dan fariasi.
4. Teorema kanektivitas
Bahwa belajar matematika mengenai setiap suatu konsep, struktur dan keterampilan berhubungan dengan suatu konsep, struktur dan keterampilan yang lain.
12
Jadi dalam belajar matematika siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran agar pelajaran itu mudah dipahami dan diterapkan baik untuk diri sendiri, lingkungan dan negara dengan adanya bimbingan dari seorang guru agar siswa itu menyadari kemampuan personal yang ada dalam dirinya.
Hal yang perlu diperhatikan peserta didik yaitu adab belajar menurut ajaran islam, merujuk pada Al-Quran dan sunnah yaitu:
1. Belajar efektif
Belajar efektif adalah kegiatan belajar yang diikuti oleh keimanan dan kecintaan kepada sang pencipta Alam Semesta. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.
2. Belajar dengan cermat
Kecermatan dan ketelitian adalah bukti dari keseriusan kita terhadap suatu pekerjaan yang dilakukan.
3. Sabar dalam menuntut ilmu
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 153 yang berbunyi:

13
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153 )
Kesabaran yang tinggi dan kasih saying dan tulus insya Allah akan membuat peserta didik akan merasa betah duduk lama didalam kelas.
4. Belajar dengan cara bertanya
Seorang guru hendaknya dapat merangsang timbulnya pertanyaan dari peserta didik di dalam pembelajarannya, sehingga pembelajaran yang berlangsung dapat bersifat aktif.
5. Restu Orang tua
kecerdasan dapat dicapai dengan tekun dan giat belajar dan berlatih, faktor kecerdasan yang pertama yaitu Allah, karena dialah yang menggerakkan saraf-saraf diotak kita, Allahlah yang menyimpan semua materi di alam raya untuk kita teliti, faktor kedua untuk mencapai keutamaan kecerdasan adalah sejati adalah kesadaran bahwa orang tua mempunyai persn besar dalam usaha dan proses pencapaian kecerdasan.
6. Hormat kepada guru
Guru adalah orang tua anak didik disekolah. fungsi-fungsi pendidikan menjadi tanggung jawab guru saat anak didik ada disekolah. peserta didik yang berhasil menguasai ilmu,
14
mengaplikasikan, dan memiliki karakter karena ilmunya tentu saja tak lepas dari peran guru-guru yang ada disekolah. Jadi, pembelajaran matematika adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi konsep-konsep/prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses pembelajaran. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator. Hal ini bertujuan agar siswa dalam pembelajaran lebih bermakna. 2. Strategi Genius Learning Secara bahasa Genius Learning berasal dari dua kata, Genius yang berarti cerdas dan Learning yang berarti pembelajaran.Jadi Genius
Learning adalah pembelajaran yang dilakukan dengan cerdas.7
Strategi Genius Learning merupakan suatu system yang terancang dalam satu jalinan yang sangat efesien yang meliputi diri anak didik, guru , proses dan lingkungan pembelajaran.Menurut Gunawan,Genius Learning adalah suatu rangkaian pendekatan praktis dalam upaya meningkatkan hasil proses pembelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam Genius Learning membantu anak didik untuk bisa mengerti kekuatan dan kelebihan mereka sesuai dengan gaya belajar mereka masing-masing . Penekanan pada pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran menjadi
7 Jhon M. Echol dan Hassan Shadily, Kamus Inggris h. 265/352
15
efesien , efektif , dan menyenangkan serta hasil belajar sesuai yang diinginkan.8 Dalam Genius Learning kita menempatkan anak didik sebagai pusat dan proses pembelajaran , sebagai suyek pendidikan,buka obyek pendidikan . Maksudnya guru hanya sebagai perencana pembelajaran dan siswa sendiri sebagai pelaksana dari kegiatan belajar. Falam menerapkan metode Genius Learning , kita berangkat dari suatu keyakinan dan pengharapan bahwa apabila anak didik dapat dimotivaswi dengan tepat dan diajar dengan cara yang benar cara menghargai keunikan mereka (gaya belajar )maka mereka dapat mencapai suatu hasi pembelajaran yang maksimal.
Gaya belajar adalah hal yang paling disukai dalam kegiatan berpikir,memproses dan mengerti suatu informasi. Walapun ada banyak pendekatan dalam hal gaya belajar. Hal yang paling penting adalah bagaimana pengetahuan mengenai gaya belajar itu dapat kita gunakan untuk membantu siswa memaksimalkan proses pembelajaran. Gunawan mengemukakan bahwa :prosses belajar dalam Genius Learning sangat memperhatikana gaya belajar siswa pada visual(penglihatan), auditori(pendengaran), dan kinestik (sentuhan dan gerakan)9
Agar pembelajaran bisa berhasil dengan maksimal, maka guru sebagai suatu factor yang mempengaruhi proses belajar siswa, harus benar-benar
8 Adi W.Gunawan .2007.Genius Learning Strategi .Jakarta:Pt Gramedia Pustaka Utama . h. 2 9 Adi W.Gunawan…. h. 143
16
memperhatikan aspek perasaan atau emosi murid, kesiapan mereka untuk belajar baik secara fisik maupun spikis . Selanjutnya proses pembelajaran yang dilaksanakan guru harus meliputi tahap persiapan , perencanaan yang baik sehingga siswa mampu menggali dan mengerti kebutuhan yang mereka butuhkan sehingga mereka menemukan arti belajar yang sesungguhnya dari informasi yang diperoleh.
Presuposisi atau asumsi dasar yang kita pakai dalammendefinisikan kecerdasan dalam strategi Genius Learning adalah sebagai berikut:
a) Setiap orang dilahirkan genius. Setiap orang dilahirkan dengan suatu
kombinasi kecerdasan yang beragam. Karena perbedaan perjalanan dan pemgalaman hidup, maka timbul perbedaan dalam dominasi dan tingkat perkembangan kecerdasan yang kita miliki.
Kondisi sosial dan budaya serta sifat dan proses pembelajaran yang kita
alami akan menentukan seberapa cepat atau lambat proses perkembangan kecerdasan ini terjadi.
b) Kecerdasan adalah suatu fenomena yang unik. Ada banyak cara dimana seseorang melihat dan mengerti dunia disekelilingnya dan cara ia mengungkapkan pengertian yang ia dapatkan.
c) Konsep diri seseorang berbanding lurus dengan potensi yang ia gali dan kembangkan.
d) IQ tinggi sangat membantu keberhasilan akademik namun bukan satu-
satunya faktor utama. IQ rendah bukan garansi kegagalan.
17
e) Guru dapat mempengaruhi dan meningkatkan kecerdasan anak didik f) Kecerdasan berkembang secara bertahap. Untuk lebih memahami hal ini, kita kelompokkan perkembanngan ini menjadi empat tahap, yaitu: 1) Stimulasi 2) Penguatan 3) Belajar dan mengerti 4) Transfer dan pengaruh
g) Berpikir dapat diajarkan.10 Genius Learning yang disusun berdasarkan hasil riset mutakhir mengenai berbagai disiplin ilmu, terutama cara kerja otak dan memori. Menekankan sembilan prinsip utama dalam proses pembelajaran ( Gunawan, 2006: 8 ) yaitu: 1. Otak berkembang dengan maksimal dalam lingkungan yang kaya stimulus multisensori dan tantangan berfikir lingkungan demikian akan menghasilkan jumlah koneksi yang lebih besar diantara sel- sel otak. 2. Besarnya pengharapan berbanding lurus dengan hasil yang di capai. Otak selalu berusaha mencari dan menciptakan arti dari suatu pembelajaran. Proses pembelajaran berlangsung pada level pikiran sadar dan pikiran bawah sadar yang positif dan bersifat pribadi.
3. Lingkungan belajar adalah lingkungan yang memberikan tantangan tinggi namun dengan tingkat ancaman yang rendah. Keadaan pikiran siswa adalah kekuatan paling menentukan untuk menuju sukses. Jika
10 Adi W.Gunawan .2004.Genius Learning Strategi .Jakarta:Pt Gramedia Pustaka Utama . h. 7-8
18
siswa percaya diri,termotivasi dan gembira maka siswa tersebut memiliki potensi untuk sukses. 4. Otak sangat membutuhkan umpan balik yang bersifat segera dan mempunyai banyak pilihan. 5. Musik membantu proses pembelajaran dengan tiga cara: a. musik membantu untuk men-charge otak b. musik membantu merilekskan otak, sehingga otak siap untuk belajar c. musik dapat digunakan untuk membawa informasi yang ingin dimasukkan ke dalam memori. 6. Dengan menggunakan strategi dan teknik khusus, maka kemampu an mengingat dapat ditingkatkan. 7. Untuk dapat mencapai hasil pembelajarn yang maksimal, maka kondisi fisik dan emosi harus benar- benar diperhatikan. Siswa tidak tidak akan bisa belajar bila dalam keadaa lapar, sakit ataupun mengantuk. Hasil penelitian menunjukkan ketika seseorang berada dalam keadaan emosi yang positif endrofin terbentuk. Selanjutnya zat ini meningkatnya aliran neurotransmiter yang disebut asitekoli dan memungkinkan terjadinya sambungan antar sel otak, sehingga otak dapat bekerja dan berfungsi dengan efisien 8. Kecerdasan dapat di kembangkan dengan proses pengajaran dan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi lingkungan. 9. Otak kiri dan otak kanan bisa berkerjasama dalam mengolah suatu informasi
Berdasarkan sembilan prinsip kerja di atas maka pembelajaran Genius Learning di gambarkan dalam sebuah lingkaran sukses. 11
11 Adi W.Gunawan .2004.Genius Learning Strategi .Jakarta:Pt Gramedia Pustaka Utama . h. 8-11
19
1. Suasana kondusif
2. Hubungkan
8. Ulangi &jangkarkan 3. Gambaran besar
7. Demonstrasi 4.Tetapkan tujuan
5. Pemasukan informasi
6. Aktivasi
Gambar .2.1 Lingkaran sukses strategi Genius Learning
3. Strategi Genius Learning Dalam Pembelajaran Matematika
Berdasarkan uraian tentang strategi Genius Learning yang telah diterapkan diatas, maka prosedur pelaksanaan atau tahap-tahap yang dapat dilakukan dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :
1. Pada pertemuan awal pembelajaran, guru mengatur ruang kelas dengan mengubah susunan meja dan kursi , serta siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Agar masing-masing kelompok keanggotaannya heterogen maka penyusunan kelompok dapat dilakukan dengan cara mengurutkan siswa dari tingkat kemampuan rendah sampai tingkat kemampuan tinggi . Untuk pertemuan berikutnya siswa sudah duduk dalam kelompoknya masing . Langkah ini merupakan tahap Genius Learning yang pertama yaitu menciptakan suasana kondusif.
2. Pada tahap Genius Learning yang kedua yaitu hubungkan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk menghubungkan antara materi
Genius Learning
20
yang baru dipelajari dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki siswa .
3.Guru memberikan gambara besar mengenai materi yang akan dipelajari. Gambaran besar dapat diberikan dengan menggunakan media pembelajaran atau menggambarkan secara lisan. Sehingga menciptakan ketertarikan dan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam penelitian ini digunakan media pembelajaran berupa ringkasan materi (chart) . Langkah ini merupakan tahap Genius Learning yang ketiga yaitu gambaran besar.
4.Guru menyampaikan tujuan yang akan dicapai dari pembelajaran sesuai indicator dari proses pembelajaran yang akan segera dimulai. Langkah ini merupakan tahap Genius Learning yang keempat yaitu teteapkan tujuan.
5. Guru mengajukan materi pembelajaran dengan mengakomodasikan gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual guru menuliskan hal-hal penting dari materi yang disajikan serta menggunakan media pembelajaran berupa chart yang berisi ringkangan. Gaya belajar auditori guru menjelaskan materi dengan memberikan tekanan pada hal-hal yang penting dan siswa berdiskusi dalam kelompoknya. Langkah ini mrupakan tahap Genius Learning yang kelima yaitu pemasukana informasi .
6. Untuk tahap Genius Learning yang keenam yaitu aktivasi, guru memberikan permasalahan kepada siswa. Masalah yang diberikan dalam Lembar Kerja siswa(LKS) untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang baru dipelajari dan dikerjakan dengan diskusi dalam kelompok
21
yang sudah ditentukan .Gurubb membimbimg dan mengarahkan siswa dalam penyelesaian soal-soal di LKS .
7. Guru menentukan satu atau dua kelompok yang akan tampil dengan cara pengundian atau secara acak .Masing-masing kelompok menentukan anggota yang akan tampil secara acak(random). Siswa dipilih mempre sentasikan hasil tugas kelompoknya di depan kelas. Langkah ini merupakan tahap Genius Learning yang ketujuh yaitu demonstrasi.
8. Guru membimbing siswa membuat kesimpulan tentang materi yang dipelajari. Selanjutnya guru melakukan peninjauan ulang berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukakan .Langkah ini merupakan tahap Genius Learning yang kedelapan yaitu tinjau ulang.
Dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan strategi Genius Learning memungkinkan siswa utnuk belajar kelompok dan saling berbagi dengan teman-temannya. Semua siswa dituntut untuk mengeluarkan ide, gagasan dan pikiran dalam memahami topik –topik pembelajaran .
Pengelompokkan Siswa
Dalam pembentukkan kelompok belajar, keanggotaan kelompok bersifat heterogen berkisar antara 4-5 kelompok , sehingga interaksi kerja sama yang terjadi merupakan kumpulan berbagai karekteristik yang berbeda. Siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan akademik. Anita Lie mengemukakan beberapa keuntungan pentgelompokkan secara heterogen :
22
a) Kelompok memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung.
b) Kelompok ini meningkatkan relasi integrasi
c) Memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya siswa yang
berkemampuan tinggi, guru mendapatkan asisten untuk mengajar.
Dengan suasana belajar seperti ini akan tumbuh dan berkembang nilai- nilai sikap , moral , dan prilaku siswa. Kondisi ini merupakan media bagi siswa dalam kemampuan dan melatih keterampilan dirinya dalam suasana belajar yang terbuka.
Agar masing-masing kelompok keanggotaannya heterogen maka penyusunan kelompok dapat dilakukan dengan cara mengurutkan nilai siswa semester 1 tahun pembelajaran 2012/2013 dari tingkat kemampuan rendah sampai tingkat kemampuan tinggi. Dibuat kelompok dari gabungan nilai anak yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.Berikut ini disajikan langkah- langkah pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan akademik yang dapat dilihat pada tabel 1 adalah:
Tabel 1: Prosedur Pengelompokan Heterogenitas Berdasarkan Kemapuan Akademis
23
Langakah I Mengurutkan siswa berdasarkan kemampuan akademis
Langkah II Membentuk kelompok pertama
Langkah III Membentuk kelompok selanjutnya
1. Ani
2. David
3. 4. . . . . 10. 11. Yusuf 12. Citra 13. Rini 14. Basuki 15. 16. . . . 24. Slamet 25. Dian
1. Ani
2. David
3. 4.
5.
6.
7.
8. 9. 10. 11. Yusuf
12. Citra
13. Rini 14. Basuki 15. 16. . . . 23. 24. Slamet
25. Dian
1. Ani
2. David
3. 4. 5.
6.
7.
8. 9. 10.
11. Yusuf 12. Citra 13. Rini
14. Basuki 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.
24. Slamet
25. Dian12
4. Model Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional secara umum adalah pembelajran dengan menggunakan metode yang biasa dilakukan oleh guru yaitu member materi
12 Anita Lie .2004. Cooperative Learning –Mempraktekan Cooperative Learning Di Ruang-Ruang Keals.(Skripsi) .Padang “
24
melalui ceramah, latihan soal kemudian pemberian tugas. Ceramah merupakan salah satu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramahan dan komunikasi searah dari pembaca kepada pendengar. Penceramah mendominasi seluruh kegiatan, sedangkan pendengar hanya memperhatikan dan membuat catatan seperlunya. Contoh pembelajaran matematika dengan pendekatan ceramah adalah sebagai berikut: guru mendominasi kegiatan pembelajaran bangun ruang dimensi tiga, dalam menyelesaikan contoh soal dilakukan sendiri oleh guru. Langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh peserta didik. Merekapun meniru cara kerja dan cara penyelesaian yang dilakukan oleh guru.
Kelemahan dari pembelajaran konvensional antara lain13:
a. pelajaran berjalan membosankan, peserta didik hanya aktif membuat catatan saja.
b. Kepadatan konsep-konsep yang diajarkan dapat berakibat peserta didik tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
c. Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.
d. Ceramah menyebabkan belajar peserta didik menjadi benar mengahafal yang tidak menimbulkan pengertian.
Kelebihan dari pembelajaran konvensional adalah peserta didik lebih memperhatikan guru dan pandangan peserta didik hanya tertuju pada guru.
13 http://muhfida.com/pembelajaran-konvensional/, (diakses pada hari minggu tanggal 22 Mei2011)
25
Berdasarkan penjelasan di atas, maka pendekatan konvensional dapat dimaknai sebagai pendekatan pembelajaran yang lebih banyak berpusat pada guru, komunikasi lebih banyak satu arah dari guru ke siswa, metode pembelajaran lebih banyak menggunakan ceramah dan demonstrasi, dan materi pembelajaran lebih pada penguasaan konsep-konsep bukan kompetensi14. 5. Hasil Belajar Matematika Hasil dari belajar metematika itu dapat di tentukan dari evaluasi dari suatu pelajaran baik dengan diadakanya ujian harian, ujian tengah semester maupun ujian akhir semester, berhasil atau tidaknya guru mengajar di lihat dari hasil belajar yang diperoleh oleh siswanya dan berhsil atau tidaknya siswa dalam belajar dilihat dari hasil belajar selama pembelajaran berlangsung.
Hasil belajar nampak dari kemampuan yang diperoleh siswa, menurut Gagne dapat dilihat dari 5 ketegori yaitu15:
a. Keterampilan intelektual (intelektual skiil)
b. Informasi ferbal (ferbal information)
c. Strategi koognitif (cognitif strategies)
d. Keterampilan motorik (moror skiil)
14 http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/02/pembelajaran-konvensional-banyak-dikritik-namun-paling-disukai/, (diakses pada hari minggu tanggal 04 Januari 2013) 15 Gagne, . . . , h 27
26
e. Sikap (atitudes).
Hal ini berarti bahwa orang dengan hasil belajarnya, selain harus dapat menunjukan kemampuan-kemampuan tertentu, kemampuan-kemampuan tertentu dapat pula di ukur tingkatanya. Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi seseoarang dengan lingkungan16. Hasil belajar yang baik hanya akan dapat dihasilkan melalui proses pemamfaatan semua potensi yang ada. Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga harus dioptimalkan penggunaanya. Hasil belajar merupakan suatu proses dari suatu kegiatan.
Sementara itu dalam taksonominya terhadap hasil belajar (Taksonomi Bloom) mengkategorikan hasil beajar menjadi tiga kawasan yaitu17:
a. Ranah kognitif (cognitive domain), yang mengacu pada respon intelektual seperti pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Ranah afektif (effective domain), yang mengacu pada respon sikap.
c. Ranah psikomotor (psychomoto domain), yang mengacu pada perbuatan fisik ( action ).
Hasil belajar siswa yang tampak dalam sejumlah kemampuan atau kompetensi setelah melewati kegiatan belajar mengajar sering hanya dinilai
16 Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.213 17 M. Chabib Thoha, Tekhnik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1990), h.27
27
dari aspek kognitif saja. Tampak bahwa ranah kognitif dan ranah psikomotor sebenarnya saling melengkapi disertai dengan hasil belajar dalam ranah afektif ( sikap).18
Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil- hasil belajar yang dicapai siswa dengan criteria tertentu.Hasil belajar siswa pada hakiktnya adalah perubahan tingkah laku seperti telah dijelaskan di muka.Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidan g kognitif , afektif , dan psikomotoris .Oleh sebab itu , dalam penilaian hasil belajar,peranan tujuan instruksional yang berisi rumusan kemampuan dan tingkah laku ayng diinginkan dikuasai siswa menjadi unsure penting sebagai dasar dan acuan penilaian. Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan –tujuan pengajaran. 19
Kaitannya dengan proses pembelajaran, maka hasil belajar merupakan sasaran yang ingin dicapai setelah proses belajar mengajar berlangsung. Tentunya hasil yang diharapkan adalah hasil yang maksimal. Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal sangat diperlukan kesiapan mental. Kesiapan ini dalam wujud kemauan dan rasa ingin tahu terhadap materi yang dipelajari. Siswa akan selalu bertanya tentang segala sesuatu yang tidak
18Hamzah Uno , Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.213 19 Nana Sudjana . 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar . Bandung:PT.RemajaRosdakarya h. 3
28
mereka ketahui sehingga mereka akan termotifasi dan aktif dalam mencari jawaban terhadap pertanyaan- pertanyaan mereka sendiri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku tersebut menyangkut bidang pengetahuan nilai (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor).
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah ahasil belajar yang merupakan tolak ukur untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam memahami suatu mata pelajaran.
B. KERANGKA KONSEPTUAL
Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa adalah dengan cara meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.Dengan meningkatnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Dengan meningkatnya keterlibatan siswa,berarti siswa memiliki tanggung jawab dalam belajar sehingga berimbas pada peningkatan hasil belajar. Peningkatan keterlibatan siswa dalam belajar dan membuat siswa dalam belajar senang dan terrrtarik, maka guru harus dapat menggunakan strategi yang bervariasi dalam pembelajaran matematika. Salah satunya pembelajaran dengan menggunakan strategi Genius Learning.
Dalam penelitian ini penggunaan srategi genius learning dilakukan berdasarkan lingkaran sukses dari strategi ini. Selama pembelajaran berlangsung dilakukan observasi terhadap aktivitas guru dan siswa oleh seorang observer
29
untuk mendapatkan gambaran tentang aktivitaws dalam proses belajar mengajar matematika dan tes diberikan disetiap pertemuan selama perlakuan. Tes diberikan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan strategi Genius Learning. Dengan adanya strategi Genius Learning diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
Dari penjabaran kerangka konseptual di atas, dapat dibuat skema proses pembelajaran sebagai beriktu :
Keterangan :
K.E : Kelompok Eksprimen
K.K : Kelompok Kontrol
PBM : Proses Belajar Mengajar
T : Pembelajaran Menggunakan Strategi Genius Learning
X1 : Hasil belajar mengajar
X2 : Hasil belajar K.K
NT : Nilai Tambah
Siswa
K.E
PBM + T
PBM
(X1)
Dibandingkan
(X2)
K.K
NT
30
C. HIPOTESIS PENELITIAN
Dari rumusan masalah dan kerangka konseptual di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah :
“Hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan strategi Genius Learning” lebih baik dari hasil belajar matematika dengan pembelajaran konvensional siswa di kelas XI di SMAN SUNGAI PUA.
31
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen.Menurut Suharsimi Arikunto, “ Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksud untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subjek selidik”.20
Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasil dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.21
B. Rancangan Penelitian
Model rancangan penelitian ini adalah Random Control Group Only Design. Dalam hal ini kelompok siswa diambil dari suatu populasi dan dikelompokkan secara acak menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
20 Suharsimi Arikunto.Prosedur Penelitian .Jakarta:Rineka Cipta, h .272 21 Sumadi Suryabrata.1984. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada.h,88
32
Kelompok eksperimen diberikan seperangkat pelaksanaan tertentu dalam jangka waktu tertentu, lalu kedua kelompok diberikan pengukuran yang sama. Perbedaan yang timbul dianggap kesalahan pada kelompok yang diberi perlakuan. Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Tabel 2 : Desain Penelitian 22
KELAS
PERLAKUAN
HASIL BELAJAR
Eksperimen Kontrol
T -
X1 X2
Keterangan : T = Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen X1 = Hasil belajar dengan menggunakan strategi Genius Learning X2 = Hasil belajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa kelas XI di SMAN SUNGAI PUA yang terdaftar tahun pelajaran 2012/2013.Dengan jumlah 121 siswa . Distribusi sebarannya siswa terlihat dalam tabel dibawah ini :
22 Sumadi Suryabrata.2003. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada.h.14
33
Tabel 3 : Jumlah Siswa Kelas XI di SMAN SUNGAI PUA
No
Kelas
Jumlah Siswa
1
XI1
32
2
XI 2
32
3
XI 3
33
4
XI 4
34
Sumber : Tata usaha MTsN IV Angkat Candung
2. Sampel
Menurut kebutuhan penelitian seperti telah diuraikan pada jenis penelitian diambil sebanyak 2 kelas yang terdiri atas 1 kelas control dan 1 kelas eksperimen . Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah random sampling.
Langkah –langkah pengambilan sampel :
a. Mengumpulkan nilai ulangan umum kelas XI di SMAN SUNGAI PUA yang merupakan populasi dari penelitian ini .
b. Setelah nilai didapat,maka dilakukan uji homopgenitas utnuk melihat
apakah populasi homogen atau tidak , dengan cara :
1. Menghitung variansi masing-masing kelas dengan rumus :
Dimana :
= Variansi masing-masig kelas
= Nilai ke-i
Fi = Frekuensi nilai ke – i
34
n = Banyaknya siswa 2. Menghitung variansi gabungan seluruh kelas dengna rumus : 3. Menghitung harga satuan B dengan rumus : 4. Menghitung harga satuan Chi Kuadrat ()
Dengan criteria pengujian hipotesis H0 ditolak jika dan diterima H0 jika < dengan α = 0,05 dan dk = k-1.23 c. Karena data homogen maka sampel ditentukan dengan acak dan diperoleh sampel kelas XI 2 sebagai kelas eksperimen, dan kelas XI 4 SMAN 1 SUNGAI PUA sebagai kelas kontrol . D.Variabel Sesuai dengan tujuan penelitian ini maka terdapat dua variabel yaitu : a. Variabel X1 Yaitu hasil belajar matematika yang didapat oleh siswa yang terlibat dalam kelas eksperimen. b. Variabel X2
23 Sudjana,..., h.263
35
Yaitu hasil belajar matematika yang didapt oleh siswa yang terlibat dalam kelas kontrol. E. Jenis Dan Sumber Data 1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1) Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber utamanya.24 Data primer dalam penelitian ini adalah data hasil belajar matematika siswa yang diperoleh setelah mengadakan eksperimen.
2) Data sekunder adalah data yang tersusun dalam dokumen dokumen atau data yang diarsipkan.25 2. Sumber Data Sesuai dengan data yang diperlukan maka data tersebut diperoleh melalui : a. Sumber data primer adalah subjek atau sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI SMAN 1 SUNGAI PUA yang menjadi sam b. Sumber data sekunder adalah sumber yang mengantarai antara peneliti dengan subjek penelitian yaitu guru bidang studi matematika kelas VII dan kantor tata usaha usaha MTsN IV Angkat Candung. F.Prosedur Penelitian Dalam bagian ini akan dibahas mengenai jalannya penelitian , ada tiga tahap yang dilakukan dalam pengambilan data dalam penelitian yaitu : 1. Tahap persiapan Pada tahap persiapan ini yang dilakukan adalah
24 Sumadi Suryabrata . Metodologi Penelitian (Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2004).h. 84 25 Sumadi Suryabrata,…h.85
36
a. Melaksanakan observasi ke sekolah untuk melihat proses pembelajaran yang diterapkan di dalam kelas
b. Menelaah data nilai ulangan harian semester II mata pelajaran matematika kelas XI SMAN SUNGAI PUA
c. Menetapkan jadwal penelitian
d. Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
e. Menyiapkan instrument penelitian
f. Menentukan kelas eksperimen dan kelas control
g. Membuat kisi-kisi soal
h. Menyusun soal tes akhir berdasarkan kisi – kisi yang telah dibuat
i. Melakukan validasi soal tes akhir
j. Melakukan uji coba soal tes
k. Menyelesaikan segala administrasi penelitian seperti surat izin penelitian, dan lain-lain .
2. Tahap Pelaksanaan
Tabel 5 : Pelaksanaan Strategi Genius Learning pada kelas Eksperimen
Langkah
Kegiatan
(1)
(2)
(3)
(4)
Pendahuluan
a. Suasana Kondusif
Memberikan dan memerintahkan siswa untuk tetap berada dalam kelompoknya sampai kegiatan belajar berakhir
Memperhatikan penjelasan guru dalam kelompok masing-masing
b.Hubungkan
Mengajukan Pertanyaan kepada
Menanggapi pertanyaan yang
37
siswa mengenai pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki.
diberikan guru
c.Gambaran
Memberikan gambaran besar tentang materi yang akan dipelajari siswa
Memperhatikan penjelasan guru
d.Tetapkan tujuan
Menyampaikan tujuan yang akan dicapai.
a. Memperhatikan penjelasan dari guru
2. Kegiatan Inti
a.Pemasukan informasi
Menyajikan materi pembelajaran dengan menggunakan media berupa chart yang berisi ringkasan materi.
a. Memperhatikan penjelasan dari guru
b.Menanggapi pertanyaan dari guru
c. Mencatat hal-hal yang penting yang dipelajari
b.Aktivasi
a.Memberikan permasalahan kepada siswa dalam bentuk soal-soal latihan di LKS
b.Membimbing dan mengarahkan siswa dalam
a. Berdiskusi dengan kelompok untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan.
b. Menyampaikan ide dan pendapat
38
penyelesaian soal-soal latihan di LKS
terhadap penyelesaian masalah dalam kelompok
c.Demonstrasi
a.Menentukan kelompok yang akan mempersentasikan hasil tugas yang diberikan
b.Mengoreksi hasil persentasi siswa dengan melempar pertanyaan pada siswa lain.
a.Menentukan anggota yang akan tampil
b.Mempersentasikan hasil diskusi
c. Siswa lainnya memberikan pertanyaan kepada siswa yang akan tampil
Tinjau Ulang
a.Membimbing siswa membuat kesimpulan mengenai materi yang baru dipelajari b.Memberikan tugas rumah
a. Membuat kesimpulan dari materi yang baru dipelajari
b.Mencatat tugas rumah
Berdasarkan tabel 5 diatas , dijelaskan pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama seperti berikut :
39
1) Pendahuluan ; siswa dibagi dalam beberapa kelompok,mengatur ruang kelas dengan mengubah susunan meja dan kursi .Hasil susunan meja dan kursi dapat dilihat pada gambar 3 sebagai berikut .
Gambar : Format Pengaturan Meja/Kursi dalam Kelas
Pertemuan 1
Pertemuan 4
Pertemuan 2
Pertemuan 3 Pertemuan 5
Catatan :
G = Guru Matemaitka (Peneliti) K3 = Kelompok 3
O = Observer (guru bidang studi ) K4 = Kelompok 4 K7 = Kelompok 7
K1 = Kelompok 1 K5 = Kelompok 5
K2 = Kelompok 2 K6 = Kelompok 6
G
K1
K2
K3
K4
K5
O
K7
K6
G
K1
K2
K3
K4
K5
O
K7
K8
G
K1
K2
K3
K4
K5
O
K7
K6
G
K1
K2
K3
K4
K5
O
K7
K6
G
K1
K2
K3
K4
K5
O
K7
K6
40
2) Kegiatan Inti
a. Guru memasukkan informasi dengan menyajikan materi
Turunan Fungsi :
Jika y = f(x) merupakan fungsi dari x, maka turunan (diferensial ) dari y terhadap x didefenisikan dengan ;
f’(x) dibaca “f aksen x”
f’(x) disebut turunan pertama dari f(x)
f’(c) = disebut perubahan sesaat atau laju perubahan f(x) pada x = c atau turunan x = c , jika nilai limitnya ada.
b. Guru memberikan contoh soal
Hitunglah :
1. dengan menggunakan defenisi turunan.
Jawab:
2. Dari soal di atas carilah
41
Jawab :
3. Misalkan y = 2z – 5 tentukan
Jawab :
= = 2
Kemudian guru memberikan LKS tiap kelompok untuk melihat pemahaman siswa. Dan 15 menit terakhir siswa dipilih secara acak untuk mempersentasikan 1 atau 2 soal di depan kelas dan menjelaskannya.
3) Penutup
Guru bersama siswa menyimpulkan materi hari ini, guru memberikan tugas baca untuk materi selanjutnya.
c. Pembelajaran matematika di kelas control berdasarkan pembelajaran biasa, yaitu guru membuak pelajaran, apersepsi , dan menerangkan pelajaran dan kemudian siswa diberikana latihan terbimbing. Menit-menit terakhir siswa diberi tugas rumah dan pelajaran hari itu disimpulkan .
42
3. Tahap Akhir
Pada tahap ini peneliti akan memberikan tes akhir untuk melihat hasil belajar siswa , tes diberikan pada kelas eksperimen dna kelas control , kemudian digabungkan utnuk menguji hipotesis.
G. INSTRUMEN PENELITIAN
a. Lembar Observasi Keaktifan Guru dan Siswa
Pada lembar observasi ini akan dilihat tentang keaktifan guru dan siswa selama PBM berlangsung.
Lembar observasi keaktifan guru dan siswa ini eterdiri dari 4 kriteria yaitu :
4 untuk kategori sangat bagus
3 untuk kategori bagus
2 untuk kategori cukup
1 untuk kategori kurang
b. Hasil Belajar
Untuk perbandingan pembelajaran matematika yang menggunakan strategi Genius Learning dengan cara biasa terhadap hasil belajar matematika siswa , diberikan tes di akhir pembelajaran dengan topik turunan fungsi.
Langkah –langkah penyusunan tes :
a.Menyusun kisi-kisi tes
b. Uji coba tes hasil belajar
43
Tes uji coba dilaksanakan pada sekolah yang sama oleh peneliti serta guru bidang studi yang bersangkutan. c. Melaksanakan analitis item Sebelum instrument itu digunakan dilakukan uji kesahihan dan keterandalan terhadap instrument tersebut yaitu : 1. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen. Instrumen akan dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang diinginkan melalui data dan variabel
yang diteliti secara tepat .26
Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur . Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.27 Validitas isi
Validitas isi atau content validity, atau validitas tes mempermasalahkan apakah isi butir tes yang diajukan itu mengandung isi kurikulum yang seharusnya diukur atau tidak28. Untuk menentukan nilai validitas digunakan rumus:
26 Suharsimi Arikunto. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Akasara), h.145 27 Arikunto , Suharsimi.2002.Prosedur Penelitian . Jakarta : Rineka cipta .h.164 28 Chabib. Thoha, Teknik evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996), h.111
44
Keterangan: Koefisien korelasi antara varabel X dan Y Jumlah testee Jumlah perkalian antara skor item dan skor total Jumlah skor item Jumlah skor total Selanjutnya dihitung thitung dengan rumus sebagai berikut : thitung = rxy rxy = korelasi product moment n = jumlah responden Setelah didapatkan thitung kemudian dibandingkan dengan ttabel. Distribusi untuk dan derajat kebebasan ( dk = n-2 ), kaidah keputusannya adalah : Jika thitung ttabel. berarti soal valid
Jika thitung ttabel. berarti soal tidak valid29
29Riduan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Muda( Bandung: Alfabeta,2004)h.98
45
Selanjutnya diperhatikan kriteria nilai validitas soal adalah sebagai berikut:
a) Antara 0,81 sampai dengan 1,00 : sangat tinggi
b) Antara 0,61 sampai dengan 0,80 : tinggi
c) Antara 0,41 sampai dengan 0,60 : cukup
d) Antara 0,21 sampai dengan 0,40 : rendah
e) Antara 0,00 sampai dengan 0,20 : sangat rendah. 30
2. Reliabilitas Tes Suatu tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dilakukan berulang- ulang kali akan memperoleh hasil yang tetap.Untuk menentukan reliabilitas soal digunakan rumus: Dengan: Koefisien reliabelitas tes Banyaknya butir item yang dikeluarkan dalam tes Jumlah varian skor dari tiap item = Varian total. Klasifikasi reliabilitas adalah: reliabilitas sangat tinggi reliabilitas tinggi
reliabilitas sedang
30Suharsimi Arikunto, Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan...,h.75
46
reliabilitas rendah
reliabilitas sangat rendah31 3.Indek Daya Pembeda (IP) Soal Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang mampu pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang berkemampuan rendah. Menurut Zainal Arifin, untuk menentukan daya pembeda soal dapat digunakan rumus: Keterangan:
=
rata-rata kelompok atas
=
rata-rata kelompok bawah
=
jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok atas
=
jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok bawah
N N
= =
27 % x N (untuk kelompok atas maupun kelompok bawah).
31 Suharsimi Arikunto,…h.109
47
Menetapkan kelompok atas dan kelompok bawah, jika jumlah sampel banyak (di atas 30) dapat ditetapkan 27 %. Soal memiliki daya pembeda signifikan jika nilai thitung > t tabel dengan degree of freedom (df) = (n1-1) + (n2 – 1) dan tingkat kepercayaan 0,01. Adapun kriteria tingkat pembeda soal berdasarkan indeks pembeda adalah: Baik sekali baik sedang
jelek32 d. Tingkat kesukaran soal Cara menentukan indeks kesukaran butir soal digunakan rumus: Keterangan: indeks kesukaran tes banyaknya jawaban salah yang dibuat oleh kelompok tertinggi banyaknya jawaban salah yang dibuat oleh kelompok rendah
skor setiap soal jika benar
32 Zainal Arifin,…,h.278
48
dari peserta tes
Adapun kriteria tingkat kesukaran berdasarkan indeks kesukaran
adalah:
sukar
sedang
mudah
G.Teknik Analisa Data
Untuk menganalisa data yang diperoleh , penulis mengambil langkah –
langkah sebagai berikit :
1. Uji normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel berasal dari
populasi yang berdistribusi normal, digunakan uji Lilieford dengan langkah
sebagai berikut:
a. Data X1,X2.X3,……Xn yang diperoleh dari data terkecil hingga data
yang terbesar.
b. Data X1,X2.X3,……Xn dijadikan bilangan baku Z1,Z2,Z3….Zn dimana:
S
X X
Z i
i
Keterangan
Xi : skor yang diperoleh siswa ke i
X : skor rata-rata
49
S : simpangan baku
c. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku kemudian dihitung
peluang
F (Zi) = P(Z<Zi)
d. Dengan menggunakan proporsi Z1,Z2,Z3….Zn yang lebih kecil atau
sama dengan Zi, jika proporsi ini dinyatakan dengan S(Zi) maka:
n
BanyaknyaZ Z Z Z yang Z
S Z n i
i
, , ..... 2 3
e. Menghitung selisih F(Zi) - S(Zi) yang kemudian ditentukan harga
mutlaknya
f. Diambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut
yang disebut L0
g. Membandingkan nilai L0 dengan nilai kritis A yang terdapat pada taraf
nyata α = 0,05. Kriteria terima yaitu hipotesis tersebut normal jika L0
lebih kecil dari A, selain dari itu ditolak .33
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel
mempunyai varian yang homogen atau tidak. Untuk mengujinya dilakukan
uji F. uji F dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
33 Nana Sudjana. 2002. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru Algesindo),
h.466
50
a. Mencari varian masing-masing data kemudian dihitung harga F
dengan rumus :
2
2
2
1
S
S
F
Keterangan
F : varian kelompok data
S1
2 : varian hasil belajar kelas eksperimen
S2
2 : varian hasil belajar kelas kontrol
b. Jika harga F sudah dapat, dibandingkan harga F tersebut dengan
harga yang terdapat pada daftar distribusi F dengan taraf nyata 5%
dan db pembilang n1-1 dan db penyebut n2-1. Jika F hitung> F
tabel berarti kedua kelompok data mempunyai varian yang tidak
homogen.sebaliknya apabila F hitung< F tabel maka kedua
kelompok data mempunyai varian yang homogen.
3. Uji Hipotesis
Untuk memutuskan menolak atau menerima hipotesis. Prosedur untuk
melakukan uji hipotesis adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan hipotesis dalam bentuk kalimat:
a. H0 : Hasil belajar matematika siswa yang menggunakan model
Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw III sama dengan hasil belajar
menggunakan pembelajaran konvensional.
51
b. H1 : Hasil belajar matematika siswa yang menggunakan model
Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw III lebih baik dari hasil belajar
matematika siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.
2. Merumuskan hipotesis dalam bentuk statistik
Bentuk statistik yang dipilih yaitu:
a. H0 : μ1 = μ2
b. H1 : μ1 > μ2
Harga statistik yang dipilih ini besarnya dihitung dari data sampel yang
dianalisis.
3. Menetapkan taraf keberhasilan
Kemudian berdasarkan taraf keberhasilan , maka ditetapkan : 0,05
4. Merumuskan statistik uji
Statistik uji yang digunakan adalah statistik , dengan rumus
1 2
1 2
1 1
n n
s
X X
t
Dimana:
2
1 1
1 2
2
2 2
2
1 1
n n
n S n S
s
52
Keterangan X1 : nilai rata-rata kelas eksperimen X2 : nilai rata-rata kelas kontrol S12 : standar deviasi kelas eksperimen S22 : standar deviasi kelas kontrol n1 : jumlah siswa kelas eksperimen n2 : jumlah siswa kelas kontrol 5. Menghitung statistik berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian. 6. Merumuskan aturan keputusan Harga t yang diperoleh dibandingkan dengan harga t yang ada pada table dengan tingkat kepercayaan 95% berdasarkan aturan keputusan. Aturan keputusan adalah:
a. Jika maka H0 diterima
b. Jika maka H0 ditolak.
Kriteria pengujian , H0 ditolak jika thitung >ttabel dengan
dk = (n1 + n2 – 2) dan tarafnya 0,05 34
34 Sudjana.2005.Metode Statistik.Bandung :Tarsito , h.239
53
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
Arikunto,Suharsimi. 2001. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Akasara
_______________.2002.Prosedur Penelitian . Jakarta : Rineka cipta .
Gunawan,Adi W.2007.Genius Learning Strategi .Jakarta:Pt Gramedia Pustaka Utama .
Hamzah B. Uno.2007. Model Pembelajaran Menciptakan proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara
Ilmi,Darul. Dasar-2009.Dasar Pendidikan dan Pembelajaran.STAIN Bukittinggi: Bukittinggi .
Indonesia , Departemen Agama Republik. 2005. AL-QUR’AN dan Terjemahannya. Bandung: Jumanatul Ali-Art J-ART.
Jhon M. Echol dan Hassan Shadily. Kamus Inggris
Lie,Anita.2004. Cooperative Learning –Mempraktekan Cooperative Learning Di Ruang-Ruang Kelas.Jakarta :PT.Gramedia Sarana Indonesia
MKPBM,Tim.2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Padang : UPI.
Mulyadi , Nikson Marpaung. 2002.Belajar Matematika Aktif. Bandung : Sinar Baru Agresindo
Riduan.2004. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan, dan Peneliti Muda. Bandung: Alfabeta
Sudjana.2005.Metode Statistik.Bandung :Tarsito
Sudjana, Nana.1989.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT.Remaja Rosdakarya
54
____________. 2002. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar.Bandung: Sinar Baru Algesindo
Tarbani dkk, 1992 .Belajar dan Pembelajaran.Jakarta : Grasindo
Suryabrata Sumadi.1984. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada
Thoha, M. Chabib.1990. Tekhnik Evaluasi Pendidikan.Jakarta: Raja Grapindo Persada
http://muhfida.com/pembelajaran-konvensional/, (diakses pada hari minggu tanggal 22 Mei2011)
http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/02/pembelajaran-konvensional-banyak-dikritik-namun-paling-disukai/, (diakses pada hari minggu tanggal 04 Januari 2013)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar